Tuesday, November 24, 2009

Jika Dia Adalah Reskiku.....

.......bila dia adalah milikku... takkan akan jauh dan tak lama dia pergi....dan pasti akan kembali....

Kali ini....galau di hati kecilku makin menjadi. Risau tiada henti mencolek ketenangan yang sudah sejam lebih kucoba, namun gagal lagi.

Tuesday, October 20, 2009

Bersihkan hati...

19 Oktober 2009, 09.30

Dering telpon dikantor mengejutkan sang sekertaris. Perangkat dan teknologi baru kali ini menyulitkan untuk memperkecil suara telepon sentral. Segera diangkat gagang telepon, suara dari seberang menyebut dan memanggil namaku. Katanya dari Bank Mandiri, kartu kredit katanya.
Segera sang sekertaris memanggil namaku, sembari menutup dengan tangannya mic pada gagang agar tidak terdengar diseberang. Keningku segera naik, kok ada kartu kredit Mandiri. Padahal sudah dua tahun kututup. Serta merta kuraih gagang telepon tersebut sambil memberi kode pada sang sekertaris untuk melacak dan merekamnya.
" Selamat Ulang Tahun, buat besok katanya", sahut sang wanita, " ulang tahun buat kamu".
Aaah...engkau lagi. 21 bulan sudah usahaku melupakanmu. Membuahkan hasil, 8 bulan kehidupanku normal lagi.
Serta merta nomor hpnya ku catat dan kukirim segera sms yang padat. Sangat keras.
" Ass. Yang ulang tahun besok, sudah lama mati terkubur bersama anaknya yang telah dikeluarkan paksa dan dibuang dilubang wc. Cukup satu wanita yang dia kenal, sekarang dia juga sudah mati...Sampaikan salamnya dikuburan, didasar laut bacan. Terima kasih atas sumpah bohong dan kemunafikanmu selama bertahun2. Semoga kau masih ingat sumpahmu di wisma afod kamar 6. Wassalam dari yg mati bersama cinta sejati dan anak terakhirnya. "
Mengapa kau datang lagi....

Sunday, October 18, 2009

Tahun Berulang Yang Lalu.....

Sehari lagi....yang tinggal beberapa jam lagi...

Tak ada yang spesial, ini hari semua tersaji normal. Jam kantor...jam pulang ...pekerjaan menumpuk....special force team masih solid...semua dalam posisi normal. Nothing wrong....Hanya kalender di dinding mengganggu isi kepala ku....Aaah tanggal itu lagi. Selalu ingin kulupakan....terlalu...
5 tahun sebelumnya...
19 Oktober 2004, pukul 14.00
Vibra ponsel T30S Motorola, bergetar kembali. Entah sudah berapa kalinya....Nomor yang itu itu lagi. Aah...wanita yang satu ini selalu menghadirkan nuangsa baru di fana ini. Modernisasi besar-besaran, mirip Turki saat di pimpim Kemal Attaturk. Harus ada perubahan, kekurangan tidak ditutupi sesuatu yang berlebihan. Ataupun sebaliknya.
Bergetar lagi....kali lebih terasa. Bagaimana tidak, ponsel satu ini bergerak pasti mengarah ke selangkanganku. Vibrasinya makin terasa...membawaku ke alam biru...
18 Oktober 2008, pukul 19.30
Malam begitu dingin...hujan di bulan Oktober memberi hawa menggigit saat bulan mulai bergerak naik. Daku menghamba kehangatan yang sangat, seperti biasanya. Dingin menyelimuti tubuh tipis ini, maklum tak ada lemak protein dibawah kulit untuk membakar. Semuanya sudah habis diserap tulang dan paru-paru. Tapi kali ini hawa hangat membutuhkan sesuatu yang dingin untuk dihangatkan. Dia datang menyerang, ganas sekali. Tanpa sehelai benang, membekap dari belakang, nafasnya berhembus kencang dibawah telinga. Suhu Basal tubuhnya cukup tinggi, menandakan kali ini puncak masa subur.
Hamba pasrah dibolak balik, bak ikan goreng. Diperlalukan tidak senonoh, semua organ tubuh di emut dan digigit. Pelecehan atau kekerasan rumah tangga. Tapi tak mungkin daku menuntut...hamba lelaki begitu girang diperlakukan demikian. Seringkali aja...guman ku.
Peluh bercucuran, kedua belah pihak tiada tanda-tanda untuk mundur dan mengalah. Tetap ngotot untuk memenangkan pertarungan ini. Tak sehelai benang menutup, tak ada bantal dan guling dan hanya kasur dengan sprei tak karuan posisinya. Semua ruang kosong diatas pembaringan telah dijajal.
Satu...dua...tiga...empat...lima...sembilan...Pukulan telak mengakhirinya. Lebih lima kali, semakin lama semakin rapat dan menjepit...hanya desahan nafas tertahan yang terdengar. Kali ini disertai rasa kejang yang cukup panjang. Daku terhempas di sela dua bukit.
20 Oktober 2004, pukul 06.00
Kado ulang tahun kali ini agak berbeda. Sebuah kemeja berwarna biru bermotif kotak kecil. Bukan hanya kemeja yang membuat berbeda dengan hari lain. Sejak semalam hamba di jadikan budak belian. Diperlalukan seenaknya, dilecehkan, dimandikan, kali ini diberi pakaian serba baru. Namun bukan daku yang mengenakan...kali ini dengan segala perlakuan. Ini tetes terakhir. Sudah 3 kali hamba memukul KO. Namun tak pernah ia berhenti menantang untuk pertarungan ulang.

Monday, August 3, 2009

Yang Terindah...Yang Terlepas....

....dunia mememasuki abad Millenium, hanya tinggal beberapa saat lagi. Babak baru dunia dimulai. Hampir semua media memberitakan hal ini. Sampai semua peramal memberi komentar....



Awal Bulan Agustus 2000,

Adalah hari baru dalam hidupku. Baru dalam segala hal. Baju baru, karena dapat seragam baru, maklum dalam rangka hari kemerdekaan. Untungnya jeansnya warna biru dongker, kalau putih....maka semua orang akan mengira bendera yang kehilangan tiangnnya. Sepatu baru, karena dapat bonus bulan ini. Lalu kekasih baru. Dan rasa yang lain. Pertama kali memiliki rasa. Rasa yang hampir punah setelah gagal yang pertama kali sepuluh tahun lalu. Dan pertama kali berjanji. Mau jumpa di rumah...katanya sudah siapkan makan siang buat daku seorang.
Hal yang tidak biasanya.....
Meski rasa kikuk menyerang bertubi2...tapi hati kecil ini tetap merasa senang. Jauh di dalam hati, sebuah doa terucap. Semoga ini tiada berakhir....

Thursday, July 23, 2009

One More Change At Love

This time gonna do my best to make it right
Can’t go on without you by my side
Hold on
Shelter come and rescue me out of this storm
And out of this cold I need someone

Searching for that one who is going to make me whole
Help me make these mysteries unfold
Hold onLightning about to strike in rain only on me
Hurt so bad sometimes it’s hard to breathe

And I would walk around this world to find her
And I don’t care what it takes no
WhyI’d sail the seven seas to be near her
And if you happen to see her
See tell her this from me
Michael Jackson/One More Change
....pagi hampir bergeliat, tiba dengan kokok ayam jantan, disertai jelaga merah di ufuk timur, bersama hawa dingin. Berlahan-lahan mentari merambat dengan hangatnya.....
Pelan selimut menyusut dari badan ini. Makin lama makin menjauh. Rasa dingin menyergap segera. Rasa itu tak mau beranjak pergi. Makin meringkuk makin dingin tiada tara. Sambil mata menutup, kedua kaki tanganku bergerak merayap. Mencari coverbad yang biasa kupakai tidur.
Namun tak juga dapat, meski hanya sisi tepi. Yang kudapat malah selembar telapak tangan lentik nan halus. Ada rasa kejut, meski kecil namun membuat mata ini segera membuka. Segera sebentuk wajah manis menyeruak kehadapanku. Kepala ini bergerak kebelakang sejenak sambi menyesuaikan pandangan mata yang kabur karena baru saja terjaga dari tidur. Sesaat kemudian wajah itu nampak mulai jelas. Wajah yang kukenal selama 8 tahun ini. Wajah rembulan, polos namun indah dihati ini. Segera itu pula sebuah kecupan manis mendarat dikening ini. Terasa dingin bibirnya beradu dengan nafasnya yang begitu hangat. Sehangat cintanya padaku. Lama terasa....seakan tiada hentinya. Tiba rasa itu bergerak pelan turun kewajah lalu ke leher. Berlahan rasa hangat segera menyelimuti tubuh ini. Sebuah pelukan, hangat terasa ganti menyerang tubuh ini. Seluruh tubuh ini terselimuti dengan pelukannya, yang tiada berbenang. Hati ini menjerit nyaring, mohon jangan kau lepas.
"Pa...sudah pagi sayang", sahutnya.
"Bangun yuk...ma buatkan teh manis kesukaan papa", sambungnya.
"Nanti mama yang mandikan papa", katanya.
"Mau kan...? sergahnya setengah bertanya.
Segera mata ini terbuka lebar. Kenapa tidak, hati kecil berteriak nyaring. Siapa takut. Meski ini hari minggu sekalipun. Tak terpikir oleh ku kalau air dikamar mandi begitu dinginnya. Segera badan ini bergerak untuk beranjak dari peraduan. Tapi tertahan dengan tubuhnya. Semakin berusaha melepas, semakin kuat pula badannya menindih. Ouw...maksudnya apa nih.
Hampir 30 menit berlalu.
Peluh bercucuran. Olahraga pagi kali ini sangat spesial. Tiada duanya. Antara penindasan dan pemaksaan yang tetap harus kulayani. Karena saya juga ingin.
Pelukannya tiada surut. namun perlahan melemah seiring matanya yang mulai sayu. Wajahnya menelungkup di bidang dadaku yang begitu tipis. Waktu berlalu. Entah berapa lama. Hamba terhanyut di pelukannya bersama mimpi. Tak kuingat lagi. Terakhir dentang jam dinding 7 kali samar-samar terdengar. Selanjutnya gelap......hamba terlelap diatas awan putih.

Tuesday, June 16, 2009

Dulu...Dahulu


...Makassar, 24 Desember 2005, pukul 1.01 AM

pesan dari emailmu...


"....Sy sdh tidak tumpul, sekarang papa yang tumpul..."


...Makassar, 24 Desember 2005, pukul 2.02 AM
pesan dari emailmu...


"....Papa.....yang tadi itu mama tidak marah-marah, yang marah malah papa. tadi mama berpikir mungkin papa malu kalau ketahuan orang mama tidak tau, sampai-sampai suara papa pelan dan kalau mama bertanya papa malah marah-marah. Papa jangan khawatir mama tidak akan bikin malu lagi papa karena mama akan belajar bagaimana menggunakanfasilitas ini. I love papa..."


Matahari siang ini lumayan teriknya. Panasnya menembus pori pori hingga terasa melewati kulit terus hingga ke tulang. Harus cari yang dingin dan sejuk. Langkahku segera kupercepat, pantasnya disebut berlari kecil. Pintu keberangkatan tersisa 20 meter lagi. Terlalu luas bandara ini. Jarak dari sisi jalan tempat menurunkan calon penumpang saja ke gerbang ada 20 meter lebih. Itupun kalau ditarik garis lurus, nah kalau lewat 150 meter. Kemudian di hitung sudut deviasinya. Jadi tambah panjang deh. Akhirnya tambah keringat dan terengah-engah. Menambah bau badan semakin tajam. Keringat bercampur deodorant serta parfum, lalu dipanaskan dengan sinar matahari, selanjutnya bau badan original bercampur dengan hawa panas. Akan sangat khas. Antara bau hangus plus gak mandi plus wangi murahan. Cukup membuat sejumlah pramugari lunglai, lemas lalu pingsan. Tapi itu belum seberapa. Bagaimana kalau pilot & co-pilot.
Akhirnya tiba juga dipintu masuk terminal keberangkatan.

Thursday, June 4, 2009

Semalam...dari sejuta malam kita lalui (2)

...mengenalmu lebih dalam bak menguak tabir lorong gelap, panjang, curam dan berliku. Sejuta malam kita lalui bak membawa lentera kecil menyusuri lorong gelap. Dan hanya kita berdua......



Bagai mengenal sudah lama, dinda lebih memahami situasi. Dengan sikap dewasa dan terhormat, dengan pelan ia menempatkan posisi tubuhnya, sejajar dengan sisi kiri badan ini. Lebih jauh....merapat...berusaha berjalan bersisian. Hamba terbawa ke alam Amor. Sebagai pria dewasa, mungkin juga, hamba tersanjung. Yang jelas ini kali pertama kenal dengan wanita, yang begitu menghargai lawan jenisnya namun tidak seronok. Elegan.
Matahari terasa bergeser, condong ke barat. Sedikit lebih rendah dari alis mataku. Kalau menurut ilmu geografis yang kupelajari selama ini. Waktu saat ini menunjukkan pukul 1.30 lewat. Itupun kalau tidak salah. Entah lewat berapa, mungkin kalau dilihat derajat deviasi, presisi dan akurasinya melenceng hanya 1 jam. Paling minim.
Tubuh kecilnya agak oleng, padahal sejumlah kantongan palstik berisi sebahagian telah berpindah dari tangannya. Berpindah ke tanganku, tak kurang 20 kilogram yang kubawah. Entah apa isinya kantongan yang kubawa, aku tak peduli. Yang terpenting kalau sikap ku kali ini dapat membuka jalan...membuka pintu hatinya yang sudah lama terkunci. Tapi kalau kuncinya hilang...bagaimana membukanya.

Semalam...dari sejuta malam yang terlalui

"...entah berapa malam kita lalui, terpikir sejenak bila ada semalam kembali dapat kita lalui bersama kembali.....walau itu tiada mungkin....namun biarkan sejenak itu berputar di alam khayal dan mimpiku..."

Sejenak mata kami beradu, ada sesuatu yang indah di dalam gelap bulatan hitam matanya. Sesuatu yang bergejolak senang namun duka yang dalam lebih besar membayanginya. Romatis juga rasanya. Walau sepersekian menit. Rasa itu begitu dalam mengena, wajah ini pasti bersemu merah karenanya. Makin nampak hitamnya jelas luka jerawat di sudut mataku. Atau justru tak nampak, karena bukan bersemu merah muda jika kulitnya sawo hangus. Tetapi makin hitam gosong bak panci. Dalam hati memaki kenapa sering keluar kantor lalu kena matahari akan hangus. Mesti setiap siang harus keluar, wajib sih masalahnya.
Cuaca agak bersahabat rupanya, mungkin pertanda Dewi Amor setuju akan rencana persengkongkolan dua insan manusia. Awan putih bergerak pelan, berkumpul menjadi satu. Pelan namun pasti, sekumpulan awan bergerak menutupi cahaya matahari. Maksud agar kami berdua tak kepanasan lagi. Firasatku mengatakan asmara ini berjalan dengan apa adanya. Matanya masih menatap dengan lembutnya, suara begitu lembut namun tak jelas apa kata2 yang keluar dari mulutnya. Hamba tersihir olehnya. Amboiii.

Wednesday, May 27, 2009

One more Again......


......8 tahun berlalu....telah 17 bulan engkau hilang disisi....hilang atau pergi atau dirampok orang...tak tahu yang pasti. Yang jelas saat ini engkau masih meninggalkan sisa bara asmara yang tetap menyala....

Bang Superman lokal, telah berubah wujud. Bak pangeran yang turun dari kudanya menolong gadis jelata......wuiih romantis banget namun bergitu jaim. Disapa dengan sopannya wanita berkerudung dan berbaju putih, maklum dinda seorang pertugas kesehatan. Kalau tukang bengkel pasti warna orange....jadi selaras dengan pekerjaan. Tapi kalau warna pink...kira kira apa yah?. Atau silver.....tapi apa ada warna seperti itu. Lho kok sapaanku tiada terjawab. Apa terlalu sopan sehingga nyaris tak terdengar karena disertai rasa grogi serta malu-malu kucing. Indikasinya jelas, pertama keringat mengucur deras meski cuaca mendung & berada dibawah pohon. Kedua, detak jantung dan irama getaran tangan serta lutut saling mengdahului, bagai angkot kota. Ketiga, mencari sesuatu atau bertanya sesuatu yang tidak perlu dicari dan dipertanyakan, misalnya sepatu saya mana? padahal sudah jelas terpakai. Atau kenapa bisa mendung? padahal jelas musim hujan sudah sebulan menjalankan aktivitasnya.

Sapaanku yang hangat kuulang lagi. Kali ini disertai dengan suara yang agak jelas. Ada rasa percaya diri yang kuat. Setelah nafas kutarik dalam dalam. Saking dalamnya terasa jelas perutku makin kembung. Namun entah kenapa telapak tangan ini basah dengan keringat. Masih kurang percaya diri rupanya. Harus diulang.....

Lho kenapa dinda tak menjawab. Malah matanya semakin terbelalak. Sudah bulat nampak makin jelas bulatan, terdiiri bulatan hitam ditengah dikelilingi warna putih. Kok tidak biru yaa...mungkin dinda orang Indonesia asli. Mulut berlahan terbuka, menampakkan gigi putih disertai ginsul. Aiiiih... manis banget. Apakah pesona wajah ini yang membuatnya begitu terkejut. Atau dinda tak menyangka pangeran menyapannya. Kata teman wajah hamba mirip Brat Pitt tersenyum sinis setelah wajahnya digilas dump truck kapasitas 200 ton. Lumayan daripada tidak sama sekali. Wajib diulang....

Kali ini disertai dengan doa bangun tidur dan doa sebelum makan. (salah satu doa yang kuhapal diluar kepala sejak taman kanak-kanak, yang lain tidak bisa). Dengan senyum berwibawa dan manis, serta suara yang jelas merdu. Paduka mengulang titahnya. Waduh....kok malah kening kirinya naik 1 oktaf, disertai gerakan kepala sedikit menyamping. Gerakan kepala membersitkan makna, titah paduka tak jelas. Maksud dinda mungkin suara paduka tak terdengar. Glek.....apa hamba terkena sidroma suara hilang. Bisa-bisa daku bisu. Tidak, tidak, hamba tak mau seumur hidup bercakap dengan mahluk manusia harus melalui tangan menari-nari. Mesti kuulang.....

Ampun.....tak jelas pula. Setelah semua kantongnya yang menyelimuti tangannnya diletakkan, sejajar dengan kedua kakinya yang berpijak sejak tadi diatas tanah. Jelas. Kalau tak sentuh tanah artinya....hantuuu. Telunjuk kanannya mengarah ke daerah kepala sekitar telinga. Apa maksudnya? Tidak jelas terdengar atau dinda tuli. Atau dinda tak punya alat pendengar, itu sebabnya dinda menutup rapat seluruh kepalanya dengan kain. Hanya wajahnya yang tidak. Jangan-jangan kepala juga plontos. tak ada sehelai rambut sedikitpun. Jadi kain itu hanya kamuflase untuk menghindari pemangsa yang lebih besar. Teringat petuah teman, ada alien yang suka memangsa manusia botak & tak bertelinga. Tak terbayangkan kalau ia menutup seluruh wajahnya dengan kain kecuali mata. Artinya seluruh organ dikepala hanya ada mata dan otak, itupun kalau dinda punya otak, yang lain polos tak bersisa. Ini tidak mungkin...pasti ada sesuatu yang keliru. Apa harus, wajib dan mesti kuulang lagi....

Kali tanpa ritual lagi, dengan jelas dan lantang, kurang lebih 7 oktaf. Dinda terkejut, ada indikasi shock. Belum tahukah wahai dinda...kalau Andre Vaparotti malu tampil saat hamba menghadiri dikonsernya di Wina. Jelas, karena ada ancaman teroris waktu itu menurut berita di televisi, padahal setahuku karena hamba tak bisa hadir.

Sesaat kemudian.

Telapak tangan dikembangkan seraya diangkat, lalau bergerak turun naik. Mirip polisi lalu lintas menyuruh memperlambat laju kendaraan. Tiba tiba gerakannya mengejutkan diriku sendir, hamba shock terpaku. Dinda bergerak mendekat, bergerak mendekatkan tubuhnya, hampir merapat ke tubuh hamba. Kurang dari sejengkal. Nafasku tertahan. Easy boy...stay cool please. Sambil tumitnya diangkat, mulut mengarahkan ketelinga hamba. Kurang dari 2 centimeter bro. Lalu berucap.....

"Maaf, tidak dengar", sahutnya.

"Terlalu bising", lanjutnya.

Mama mia...suaranya begitu lembut kalah dengan Glory Estefan, menenangkan bathin ini yang bergejolak sejak tadi. Wangi tubuhnya menghapus bau sampah yang tak jauh dari tempat kami. Hembusan angin dari rongga mulutnya memberi rasa sejuk di tubuh ini, kalah dengan ac dikantor yang sudah mulai rusak karena keseringan di servis. Hamba terhanyut hampi ke awan awan. Untung hamba segerap sigap dan menguasai diri. Ini berkat latihan tae kwon do semasa kuliah, setiap seminggu sekali. Meski jadwalnya hanya 3 kali seminggu yang mesti kuikuti. Segera hamba sadar, kalau kami berada disisi jalan yang macet. Hingga suara hamba tak terdengar, apalagi ada bengkel motor yang aktif membuang asap kendaraan servisan disertai bunyi yang nyaring.

Segera tangannya meraih lenganku, untuk bergerak meninggalkan dari tempat kami. Menjauh dari kebisingan. Tangannya begitu lembut menyentuh lengan ini, terasa ototku semakin besar & kuat. Mungkin karena sudah 2 minggu lebih hamba fitness di tempat milik sendiri, dengan setiap pagi dan sore selama 1 jam menimba air sumur, mengisi 2 ember kapasitas masing-masing 10 liter, lalu menuang kedalam bak mandi yang berjarak tidak kurang 2 meter dari sumur. Padahal dirumah kontrakan ada kran air PAM yang sambungannya terputus karena menunggak 2 tahun lebih. Hasilnya, otot lengan lebih kuat dari irisan tempe mentah yang rapuh itu. Hebaaaat.

Sambil melangkah kearah yang dinda tunjuk, kepala hamba tertunduk malu. Hamba begitu bangga, dalam jangka kurang dari 30 menit. Dinda menjadikan diriku orang terganteng, terhebat & terhormat. Namun dalam hati kecil ini hamba berdoa. Ibunda lindungi hamba dari godaan asmaraku yang begitu menggelegar. Jangan jadikan anakmu yang lugu ini menjadi orang yang lemah. Beri kekuatan...

Tuesday, May 12, 2009

Badai Pasti Berlalu

Kelak semua akan damai, tenang...., Namun entah kapan..... Karena tidak pernah durjana inginkan ketenangan, kedamaian, keadilan & kemakmuran. Malah Durjana berharap sebaliknya... maklum keturunan iblis-manusia......

Tuesday, February 10, 2009

Merenda Cinta Sejati


Tiada indah fana ini tanpa rasa, hasrat, naluri

Meski itu sejenak, sekilas bila dikenang

Terasa dalam, sedalam akar beringin

Teduh bagai rindang daun dibawah terik matahari

Dahaga terlepas saat haus mendera di padang pasir.



Benang kusut yang kuraih

Kuurai helai demi helai

Kujalin yang terputus

Kurenda menjadi kain

Hari demi hari

Tiada lelah.




Bahagia menyelimuti kita berdua

Tiada habis air kita teguk

Oase luas kita minum

Dalam laut kita renangi

Tak terasa sampai ke tepi jua.




Gunung tinggi menantang kita

Perompak permata turun gunung

Jurang disisi kita

Tiada tempat berlindung

Tanah membelah, memisahkan kita.




Rasa penat, lelah, haus mendera

Bak pengembara kehilangan arah

Takdir berkehendak

Ikhlas kita coba lalui

Namun berontak hati kecil

Tiada tertahan.




Langit cerah kulalui, mendung kulalui

Purnama kuabaikan, Gerhana kuacuhkan

Terasa berabad lamanya menunggu

Janji tiada jua terbentuk

Terkapar jasad diri diujung cintamu.




Mimpi indah bersama dirimu

Lunglai saat bangun dari mimpi panjang

Takdir berucap lain

Namun yang kuingin cinta tiada lekang

Meski sekali dalam hidup tak akan pernah kulepas.





Andai takdir berkehendak


Kuingin mengurai kembali benang itu


Meski kusut dan kotor, namun tetap kurenda


Menjadi selimut, membungkus hati yang dingin


Menjadi kafan dikala nafas terakhir pergi.



Tak akan pernah kupungkiri kata hati dan janjiku

Engkau yang membahagiakan hati

Meski tak kumiliki, namun anugerah terindah dapat kumiliki

Cinta, kasih sayang & pelukan hangatmu.

Tiada yang dapat mengganti....


Makassar-Menado, 2 - 10 Februari 2009
Diatas Langit Sulawesi
Kumerindu dirimu jua
Permata Hatiku...

Monday, January 5, 2009

Arti Tahoen Baroe


" Detik berlalu, digenaplan menjadi menit.

Menit berlalu, digenapkan menjadi jam.

Jam berlalu, digenapkan menjadi hari.

Hari berlalu, membentuk minggu.

Minggu berlalu, membentuk bulan.

Bulan berlalu, menjadikan tahun....."



" Setiap mereka berlalu, terasa sekejap.....

Seakan sejenak lalu....

Seperti tak terasa...

Seperti itu."



" Akan hampa semua, tiada beda sekarang dan lalu....

Akan bermakna semua, dari awal hingga akhir....

Begitu bermakna, jika itu ada..."


" Jika itu ada, akankah ia mendewasakan...

Atau sebuah kekanak-kanakan...

Atau bentuk amarah, ikhlas, benci, rindu serta cinta....

Akankah itu menjadikan cermin hidup...

Atau sebuah cerita trilogy

Yang kelak dicerita kembali, dari seorang yang menceritakan dari paccarita

Yang menceritakan cerita-cerita dari orang lain."