Tuesday, February 10, 2009

Merenda Cinta Sejati


Tiada indah fana ini tanpa rasa, hasrat, naluri

Meski itu sejenak, sekilas bila dikenang

Terasa dalam, sedalam akar beringin

Teduh bagai rindang daun dibawah terik matahari

Dahaga terlepas saat haus mendera di padang pasir.



Benang kusut yang kuraih

Kuurai helai demi helai

Kujalin yang terputus

Kurenda menjadi kain

Hari demi hari

Tiada lelah.




Bahagia menyelimuti kita berdua

Tiada habis air kita teguk

Oase luas kita minum

Dalam laut kita renangi

Tak terasa sampai ke tepi jua.




Gunung tinggi menantang kita

Perompak permata turun gunung

Jurang disisi kita

Tiada tempat berlindung

Tanah membelah, memisahkan kita.




Rasa penat, lelah, haus mendera

Bak pengembara kehilangan arah

Takdir berkehendak

Ikhlas kita coba lalui

Namun berontak hati kecil

Tiada tertahan.




Langit cerah kulalui, mendung kulalui

Purnama kuabaikan, Gerhana kuacuhkan

Terasa berabad lamanya menunggu

Janji tiada jua terbentuk

Terkapar jasad diri diujung cintamu.




Mimpi indah bersama dirimu

Lunglai saat bangun dari mimpi panjang

Takdir berucap lain

Namun yang kuingin cinta tiada lekang

Meski sekali dalam hidup tak akan pernah kulepas.





Andai takdir berkehendak


Kuingin mengurai kembali benang itu


Meski kusut dan kotor, namun tetap kurenda


Menjadi selimut, membungkus hati yang dingin


Menjadi kafan dikala nafas terakhir pergi.



Tak akan pernah kupungkiri kata hati dan janjiku

Engkau yang membahagiakan hati

Meski tak kumiliki, namun anugerah terindah dapat kumiliki

Cinta, kasih sayang & pelukan hangatmu.

Tiada yang dapat mengganti....


Makassar-Menado, 2 - 10 Februari 2009
Diatas Langit Sulawesi
Kumerindu dirimu jua
Permata Hatiku...