Tiada indah fana ini tanpa rasa, hasrat, naluri
Meski itu sejenak, sekilas bila dikenang
Terasa dalam, sedalam akar beringin
Teduh bagai rindang daun dibawah terik matahari
Dahaga terlepas saat haus mendera di padang pasir.
Benang kusut yang kuraih
Kuurai helai demi helai
Kujalin yang terputus
Kurenda menjadi kain
Hari demi hari
Tiada lelah.
Bahagia menyelimuti kita berdua
Tiada habis air kita teguk
Oase luas kita minum
Dalam laut kita renangi
Tak terasa sampai ke tepi jua.
Gunung tinggi menantang kita
Perompak permata turun gunung
Jurang disisi kita
Tiada tempat berlindung
Tanah membelah, memisahkan kita.
Rasa penat, lelah, haus mendera
Bak pengembara kehilangan arah
Takdir berkehendak
Ikhlas kita coba lalui
Namun berontak hati kecil
Tiada tertahan.
Langit cerah kulalui, mendung kulalui
Purnama kuabaikan, Gerhana kuacuhkan
Terasa berabad lamanya menunggu
Janji tiada jua terbentuk
Terkapar jasad diri diujung cintamu.
Mimpi indah bersama dirimu
Lunglai saat bangun dari mimpi panjang
Takdir berucap lain
Namun yang kuingin cinta tiada lekang
Meski sekali dalam hidup tak akan pernah kulepas.
Andai takdir berkehendak
Kuingin mengurai kembali benang itu
Meski kusut dan kotor, namun tetap kurenda
Menjadi selimut, membungkus hati yang dingin
Menjadi kafan dikala nafas terakhir pergi.
Tak akan pernah kupungkiri kata hati dan janjiku
Engkau yang membahagiakan hati
Meski tak kumiliki, namun anugerah terindah dapat kumiliki
Cinta, kasih sayang & pelukan hangatmu.
Tiada yang dapat mengganti....
Makassar-Menado, 2 - 10 Februari 2009
Diatas Langit Sulawesi
Kumerindu dirimu jua
Permata Hatiku...