Sehari lagi....yang tinggal beberapa jam lagi...Tak ada yang spesial, ini hari semua tersaji normal. Jam kantor...jam pulang ...pekerjaan menumpuk....special force team masih solid...semua dalam posisi normal. Nothing wrong....Hanya kalender di dinding mengganggu isi kepala ku....Aaah tanggal itu lagi. Selalu ingin kulupakan....terlalu...
5 tahun sebelumnya...
19 Oktober 2004, pukul 14.00
Vibra ponsel T30S Motorola, bergetar kembali. Entah sudah berapa kalinya....Nomor yang itu itu lagi. Aah...wanita yang satu ini selalu menghadirkan nuangsa baru di fana ini. Modernisasi besar-besaran, mirip Turki saat di pimpim Kemal Attaturk. Harus ada perubahan, kekurangan tidak ditutupi sesuatu yang berlebihan. Ataupun sebaliknya.
Bergetar lagi....kali lebih terasa. Bagaimana tidak, ponsel satu ini bergerak pasti mengarah ke selangkanganku. Vibrasinya makin terasa...membawaku ke alam biru...
18 Oktober 2008, pukul 19.30
Malam begitu dingin...hujan di bulan Oktober memberi hawa menggigit saat bulan mulai bergerak naik. Daku menghamba kehangatan yang sangat, seperti biasanya. Dingin menyelimuti tubuh tipis ini, maklum tak ada lemak protein dibawah kulit untuk membakar. Semuanya sudah habis diserap tulang dan paru-paru. Tapi kali ini hawa hangat membutuhkan sesuatu yang dingin untuk dihangatkan. Dia datang menyerang, ganas sekali. Tanpa sehelai benang, membekap dari belakang, nafasnya berhembus kencang dibawah telinga. Suhu Basal tubuhnya cukup tinggi, menandakan kali ini puncak masa subur.
Hamba pasrah dibolak balik, bak ikan goreng. Diperlalukan tidak senonoh, semua organ tubuh di emut dan digigit. Pelecehan atau kekerasan rumah tangga. Tapi tak mungkin daku menuntut...hamba lelaki begitu girang diperlakukan demikian. Seringkali aja...guman ku.
Peluh bercucuran, kedua belah pihak tiada tanda-tanda untuk mundur dan mengalah. Tetap ngotot untuk memenangkan pertarungan ini. Tak sehelai benang menutup, tak ada bantal dan guling dan hanya kasur dengan sprei tak karuan posisinya. Semua ruang kosong diatas pembaringan telah dijajal.
Satu...dua...tiga...empat...lima...sembilan...Pukulan telak mengakhirinya. Lebih lima kali, semakin lama semakin rapat dan menjepit...hanya desahan nafas tertahan yang terdengar. Kali ini disertai rasa kejang yang cukup panjang. Daku terhempas di sela dua bukit.
20 Oktober 2004, pukul 06.00
Kado ulang tahun kali ini agak berbeda. Sebuah kemeja berwarna biru bermotif kotak kecil. Bukan hanya kemeja yang membuat berbeda dengan hari lain. Sejak semalam hamba di jadikan budak belian. Diperlalukan seenaknya, dilecehkan, dimandikan, kali ini diberi pakaian serba baru. Namun bukan daku yang mengenakan...kali ini dengan segala perlakuan. Ini tetes terakhir. Sudah 3 kali hamba memukul KO. Namun tak pernah ia berhenti menantang untuk pertarungan ulang.