Wednesday, August 25, 2010

Ramadhan 2010

....Awal bulan puasa kali ini sengaja dibuat spesial, menu sahur lengkap dengan pencuci mulut. Spesial menu, diracik dan diolah dengan chef senior dan berpengalaman training memasak di rumah neneknya. Bahan didapatkan dari dua tempat berbeda. Bahan utama bumbu, langsung diimpor dari tanah leluhur. Bahan pokok, dipesan khusus dari nelayan. Hasilnya cukup membuat saya nambah 3 kali....
Ramadhan kali ini agak berbeda...

Tuesday, June 29, 2010

Batas Senja

"...anda bersama siapa kesini?", tanya sang Professor
" Kalau anda mau ikut saran saya, sebaiknya anda segera ke rumah sakit terdekat", lanjutnya
" Serangan seperti ini tidak melihat umur, yang lebih muda dari anda banyak yang lewat", sergahnya.
Kata terakhir menyatakan "lewat", membuat pikiran ku makin buntu. Sejenak wajahku berpaling ke wanita manis yang berdiri disisi kananku. Hanya gerakan mata, maksud hatinya sudah kupahami....segera kami laksanakan.
Selanjutnya hamba melayang....jauh entah kemana.
Akademis-Jaury Jusuf, Private General Hospital
Januari, 2006.
Ahh...masa itu berlalu demikian cepatnya. Masa yang paling kritis pernah kulalui. Namun paling romantis yang pernah kualami. Cukup sudah jika diminta melaluinya kembali, kecuali untuk yang satu, romantis. Tak tahu kenapa, masa romantis ini harus kulalui bersama masa kritis.

Wednesday, March 10, 2010

Sebenarnya yang seharusnya.....

"....menjalani hari cerah tanpa yang terindah disisiku, hanya bayang semu tentang dirimu hadir dan menggelayut dipelupuk mata....
lalu...bermain-main kornea....
selanjutnya....menembus saraf sadar...
hingga.....membuai hati kecilku...
dan....berharap engkau hadir kembali....
walau itu hanya mimpi....hanya khayalku....hanya anganku...walau itu tak mungkin, namun kuberharap itu terbukti...meski sekejap....meski itu tak mungkin...tak terjadi..."

khayalku tentang mu...

Hasanuddin - Cengkareng - Jakarta, 10 Agustus 2009, pesawat pemberangkatan paling akhir.....

Pukul 00:43 wita, gumanku. Panggilan yang untuk memasuki ruang tunggu penumpang selanjutnya ke belalai gajah alias terowongan yang menuju pintu pesawat, tidak lama lagi, tidak lama lagi paduka memasuki kereta kencana. Tentunya dengan dayang cantik menyambut dengan senyum manis. Aaah...naik pesawat lagi...ke Batavia lagi. Paduka harus bersiap-siap. Tarik nafas yang dalam lalu tahan sejenak, kemudian hembuskan berlahan lahan. Ulang sekali lagi...lalu sekali lagi...dan sekali lagi. Terapi diri agar tidak grogi.

Jari kaki berlahan kugerakkan, untuk memperlancar peredaran darah, agar tak keram selama dalam perjalanan. Tapi apa iya jari2 kakiku dapat bergerak....sepatu ini terasa sempit. Sangat sempit, karena sempitnya sampai tergambar jelas diwajah. Entah kenapa sepatu ini terasa sempit, padahal baru seminggu tak kupakai. Apa karena ukuran sepatu ini menyusut, atau kakiku yang tumbuh berkembang bak anak ABG. Tapi kenapa hanya diujungnya. Tidak disisinya atau ditumit. Mungkin salah pakai ...tertukar posisi. Yang kekiri pindah kekanan. Segera kutengok kedua kaki itu yang telah tertutup kain kanvas putih berbentuk tapak dan beralas spon karet. Sejenak kuperhatikan, secara seksama tentunya. Tak ada yang salah. Sesuai fungsi dan posisinya.

Masih sesak. Tentunya sangat menyiksa.

Beranjak dari kursi tunggu. Berdiri, lalu melangkah kedepan, dengan tegap pastinya. Tentunya sedikit menyentak biar dikira perwira yang lagi cuti. Kutengok kebawa. Haaaaa...tak nampak kedua kakiku. Ya Tuhan....kemana kedua kakiku yang selama ini membawa tubuh berjalan dan berlari kemana. Mengapa tiba -tiba menghilang. Dengan segera kubalik badan ini. Mencari tahu dibelakangku, jangan sampai tertinggal dikursi tunggu. Tak ada. Hanya ransel hitam milikku yang berisi laptop dan perlengkapan tempur, mungkin berat tak kurang 15 kg.

Panik mulai melanda. Kutengok kebelakangku, juga tak ada. Ragu akan kakiku sendiri, jangan jangan main petak umpet sendiri tak aba-aba.

Pandangan lalu kualihkan kebawa menyusuri tubuh belakangku. Cek satu persatu. Pinggang ada...pantat pupus...paha utuh..betis lengkap...tumit pada posisinya. Tumit...tentu ada tapaknya. Segera kualihkan kedepan kepala ini lalu menunduk. Tak nampak juga. Lalu sedikit membungkuk...akhir kutemukan juga kedua kakiku. Alhamdulillah....sepasang kaki ini kutemukan kembali. Rupanya pandangan mataku terhalang oleh perut buncit ini. Metabolisme tubuhku sudah tidak merata. Jatah lebih banyak diambil oleh pusat pengelolaan makanan. Sedangkan pantat semakin pupus akibat banyak duduk dan kurang olahraga, dada mulai merata akibat banyak terhempas angin malam. Sungguh terlalu.

Masik sesak. Lebih menyiksa lagi.

Aaah...kenapa sepatu ini terasa sempit sekali. Hanya diujung sepatu lagi. Apa mungkin seluruh jari kakiku dari kelingking hingga jempol berubah. Membesar dan berkembang sekejap waktu. Semua berubah menjadi jempol semua, sehingga jempol menjadi double thumbs. Atau ini akibat peredaran darah yang salah dalam tubuh, akibat salah minum obat. Mustahil...

Segera langkahku berbalik dan kembali ke tempat duduk diruang tunggu. Segera kucopot sepatu dari kakiku. Meski hati kecilku berharap cemas, semoga semua tak berubah menjadi jempol. Satu....dua...tiga...huuup. Terlepas juga. Meski susah payah namun terlepas jua. Nafas kutahan. Dan kakiku tak berubah, hanya ada luka kecil yang disebut lecet akibat tergesek. Tapi mengapa kedua kaki ini bertelanjang. Tak ada sehelai benang serta kain dan karet berbentuk kaki yang menutupinya. Kerap kali disebut kaos kaki oleh para penjual sepatu. Serta merta tanganku merogoh kedalam sepatu. Ada benda halus dalam ruang di ujung sepatu ini, serta merta kedua jariku menjepitnya lalu kutarik. Dan keluarlah sebuah kain halus. itulah kaos kaki. Yang berarti sejak dari rumah hingga ke ruang tunggu, paduka tak berkaos kaki. Dan itu membuat sempit sepatu ini. Karena beliau terdesak oleh kaki lalu berkumpul diujung sepatu, hingga membuat sempit sepatu ini kakiku. Benar benar terlalu......

Tapi mana sepatu yang satunya....mulai panik lagi.

Glek....air liur tak sengaja kutelan akibat terkejut. Ruangan tunggu ini telah kosong oleh calon penumpang. Hanya hamba seorang diri. Bergegas kuambil rangsel serta kantong plastik berisi makanan kecil, persiapan ngemil di pesawat. Maklum maskapai ini tidak menyiapkan makanan selama perjalanan kecuali ada bersedia membeli. Kali ini rasa panik mulai menyerang seluruh saraf keseimbanganku, hingga otak. Seluruh sisi ruangan kusisir dengan pandangan nanar karena ingin menangis namun tajam, tak ada satupun calon penumpang. Hanya ada seorang manusia, entah itu gadis atau sudah emak tak jelas. Pandangan ku kabur karena mulai terharu, daku ketinggalan pesawat sahut disertai tangisan kecil dalam hati.

Wanita itu yang melangkah mendekati, senyuman manis menyertainya. Lurus kehadapanku. Sembari tangan kiri melayang dan berayun didepan perut, sedangkan tangan kanan lurus membentang serata bahu. Mulut komat kamit seperti berucap sesuatu. Hampa terpaku, tak bergerak. Semoga bukan hantu. Semakin dekat wanita ini dihadapanku, hanya berjarak setengah lengan. Tiba tangan bergerak keatas mengarah telingaku, lalu menarik sesuatu ditelingaku.

" Maaf mas...",suaranya terdengar jelas ditelingaku. Lembut sekali.
" Calon penumpang yah?" tanyanya.
" Mas, harus pindah ke ruang tunggu", serunya. " Ruang tunggu 12, sebelah sana" lanjutnya
" Pesawat anda di delay selama 3 jam", sambungnya.
" Ada makanan dan minuman disana" tukasnya
" Apa mas tidak dengar pengumumannya" sembari membalikkan badannya.

Dan wanita melangkah ke pintu keluar. Sejenak wajah menoleh. Walau jarak sudah lebih dari 2 meter dihadapanku nampak jelas kalau dia adalah wanita muda, biasa dikenal sebagai gadis. Pandanganku mulai terang setelah mendengar kabar gembira namun sangat buruk. Bahwasanya paduka telah disiapkan makan dan minum dan telah tersaji di ruang tunggu. Serta paduka tidak ketinggalan pesawat namun hanya menunggu selama 3 jam. Dan paduka harus berjalan kaki dari ruang tunggu 1 diujung timur ke ruang 12 diujung barat. Dimana ruang tunggu penumpang ini hanya seluas 4 ha, cuma terluas kedua se-Indonesia. Glek...lagi.

Kutarik ujung headset ditelinga kiriku. Tadinya kedua tertutup olehnya hingga hamba tidak mendengar suara infotaiment bandara. Dasar.... benar benar keterlaluan.

Wednesday, January 27, 2010

Kenang.....

....24 bulan berlalu, masih saja seperti yang kemarin. Seperti saat dia masih disini, disisiku, berbaring sambil menungguku menyelesaikan tugas kantor. Rasa ini, masih kah menjadi milikku dan milikmu....

Rasa galau, gelisah dan khawatir, selalu hadir. Sejak kita pertama kali bertemu, 6 tahun yang lalu. Namun kali ini, sangat berbeda. Hampir setiap saat. Degup jantung ini berirama lain. Tiada seperti kala itu. Bak genderang yang mengiringi para pahlawan kembali dari medan pertempuran menuju peristirahatan yang terakhir. Isyarat bahwa sesuatu yang berbeda akan terjadi. Seakan kita tak dapat melalui waktu seperti dahulu. Seakan sebuah gunung berapi, akan hadir diantara kita, menjadi pembatas diantara kita. Tapi entah itu apa...
Detik berlalu,