Desember 1997, Makassar
Wajah bulat semakin terasa bulat, ditambah dengan bola mata yang sipit menatap lembut. Tentu dengan harap. Ada secerca cahaya harapan bermain di matanya. Harapan, untuk dapat berbagi. Berbagi...ya berbagi menjalani hari indah, berdua tentunya. Asa serta cita menunggu terlontar, yang sejak lima menit berlalu, tiada terucap. Terbayang kata kata manis menumpuk diujung bibir pemuda pribumi, terlepas dengan indahnya.
"Ko Ang...?", ucap sang gadis.
Sekilas matanya nampak berkaca-kaca. Jelas ada rasa cemas. Khawatir yang tak terbayang.
"Ko....?!?", tambahnya, kali ini ada setengah memaksa.
Pias wajahnya makin nampak pucat. Cahaya rembulan menembus celah tembok lorong gelap dan kecil. Menyinari sebahagian wajah mungil yang mulai pucat. Namun makin nampak kecantikan dara Hokkian turunan. Dimatanya, hanya pemuda pribumi ini sanggup meluluhkan keras hatinya. Padahal entah berapa taipan ganteng menunggu balasan surat cinta mereka.
"Ni ai wo?", tanya sang pujaan hati.
Sejenak hening, lalu anggukkan kecil. Setelah itu tertunduk. Sangat menunduk, seakan akan ingin wajahnya dibenamkan kedalam tubuhnya. Kali ini cahaya rembulan menyinari kepang kudanya. Ya di kepang. Baru kali ini ia mengikat rambutnya. Biasanya dibiarkan terurai dan berhamburan hingga dipunggung dan dadanya. Seperti tak terurus. Kali ini ia ingin tampil tercantik dihadapan sang pujaan. Meski hanya dikepang lalu di jepit dengan kupu kupu imitasi.
" Ko Ang...?, tanyanya sambil menunduk.
" Ko...tidak terima..?", sambungnya.
Ko Ang, nama manis buat sang pujaan, pribumi berdarah bugis murni. 100 % asli. Meski jelas bukan cong ko deng. Tapi buatnya inilah pemilik hatinya.
"Kalau dibalik...Ni Ai Wo?", tukas sang pujaan.
"Artinya apa...?", sambungnya.
Sesaat, wajah ditengadahkan ke atas. Lalu berbalik menatap daeng manisnya.
"Artinya...saya cinn...kamu!", jawabnya.
Ditatapnya dalam mata pujaaan hatinya. Mata ini membuatnya selalu salah tingkah dan tak bisa tidur.
"Ooo...", kata sang daeng
"Kalo begitu..." tambahnya.
"Saya pilih Ni Ai Wo...", sambungnya
"Tapi yang dibalik katanya....", tutupnya.
Sebutir air mata bergulir lembut di wajah manisnya. Lalu....dengan segera wajahnya dibenamkan di dada sang pujaan. Tentunya dengan pelukan hangat darinya. Meski terbersit di hatinya. Kenapa sih lelaki pujaannya sulit untuk berkata tegas. Tapi diacuhkannya. Yang penting buatnya, takkan kulepas cintaku pergi jauh.
No comments:
Post a Comment
Masukkan alamat email anda dan nama lengkap