Makassar, Senin 25 Agustus 2014
Membuktikan pada mereka....seharusnya tidak perlu. Hanya menjadi pengakuan atas pembenaran yang telah ada...itupun telah berlalu. Dan yang itu pula, adalah hal tersulit untuk menjadikan masa depan, hanya itu yang dapat menjadikan hal terindah, masa lalu manis yang selalu terkenang...Masa depan kita hanya mimpi atas doa doa kita yang di panjatkan di masa lalu, dan hanya itu yang bisa kita lakukan saat itu......mungkin saat ini juga.....
Semoga yang lain dapat menempuh dan mengakhiri dengan indah....
Siang sepulang kerja,
Tak satu pun mahluk hidup berbentuk manusia didalam rumah, bersyukur kudapati pagar dan pintu rumah terkunci. Meski itu bukan hal sulit buatku, karena setumpuk kunci cadangan di dalam bagasi motor, tapi ada rasa khawatir dalam bathin...Bukan kah biasanya, semburat wajah manis dengan rambut panjang akan nampak dengan lesung pipitnya di balik pintu. Ada kecupan manis dikeningnnya, sebagai hadiah bila ia menyambutku... Namun kali ini...tidak.
Sedalam mungkin kutarik nafasku, terhembus di sela bibir. Terasa penat dan lelah menyelimuti seluruh tulang berbungkus daging tipis. Kemana gerangan malaikat manisku. Gadis manis yang pasrah menjadikan dirinya malaikat demi lelaki pujaannya. Walau hati kecilnya tak bisa menyembunyikan rasa sakit yang dalam, bahwa beruang pujaaan hatinya, bukan utuh miliknya.
Pintu ruang tamu kubuka sendiri dengan kunci cadangan milikku. Aroma adonan terpanggang menyerbu lubang hidung kecil ini. Wangi. Pandanganku menyisir ruang tamu. Sepi. Tak ada suara lain, selain suara nafasku dan detak kaki yang bersapatu milikku. Kutengok ke ruang tengah, tak ada yang beraktifitas. Biasaya kalo mereka semua hadir, bertebaran di karpet depan tivi. Kemana malaikatku. Kuhambur kan semua yang menyesakkan tubuh ini, sepatu, kaos, kemeja, pulpen, dompet, rokok, korek, buku catatan. Semuanya tergeletak diatas lantai depan tivi. Bersisa kaos dalam dan celena kain.
" Mamaaaa....!!???", sahutku, terasa perih tenggorokan, kering dan rasa haus menyergap.
Tak ada suara menyambut. Sejenak kupaling wajahku ke whiteboard, biasanya dia menitip pesan kalo ia tak dirumah. Tapi tak ada. Hanya pesanan pembelian barang buat dikirim ke Ternate. "Jangan lupa antar mama yaaa!!!". Hanya itu.
" Mamaaaa...Daaaa...", teriakku ulang. Da, panggilan manis buat malaikat kecilku.
" Paaaa...", ada suara halus menyahut kehadiranku.
" Mama di dapur....papa sudah pulang???", tambahnya.
Riang hati ini, malaikat kecilku....rupanya di dapur. Segera kususul suara manisnya. Bukan kecupan dan pelukan manis kudapat. Tapi...semua alat masak baru, saling berlomba keluar dari kotaknya.
Eksperimen apa lagi yang dibuatnya....
Entah berapa lembar kertas bertulis yang bertaburan di atas meja makan, sangking penuhnya sebagian dari kertas bertulis itu, pasrah terjun bebas ke lantai.