“ Hari ini, yang ke tiga, hari yang kesekian kali suara itu
memenuhi telinga dan mengisi hati ku…..
Ada banyak yang kata meluncur, tak tertahan, bendungan air
mata jebol juga. “
Sepuluh tahun berlalu,
Hari ini libur, akhir pekan.
Bule kerap menyebut weekend, libur di akhir pekan. Sebenarnya tidak banyak artinya, karena
seperti biasanya. Libur hanya
beristirahat dari kegiatan rutin.
Melepas penat dan stress. Dengan
berselimut , memeluk bantal, bangun telat dan kalo bisa tidur sepanjang hari.
Tetapi tidak kali ini…
MOU sudah ditanda tangani, kami sepakat. Hari ini adalah hari olahraga, bereskan rumah,
mencuci dan memasak. Ini sama saja perbudakan, penjajahan,
melanggar Undang-undang, menindas hak
hak orang yang istirahat. Tapi apa boleh
buat, perjajian sudah disepakati.
Seperti biasanya, selalu ada nada halus pembuka, persis
ditelinga. Disertai usapan lembut
dikening, lalu punggung, lalu dikecup. Selanjutnya suara itu terdengar
“ Pa, sudah subuh…”, ucapnya.
“ Ayam sudah lebih dulu cari makan, masa papa kalah?!”
lanjutnya. Waduh, masa disamakan ayam. Bodoh
amat, jawabku dalam hati.
“Reseki itu diturunkan di pagi hari….”, lanjut
khotbahnya. Ucappan semakin lembut, membuat
tidur sedikit terganggu. Bukan suara itu
yang mengganggu. Tapi nafas itu
menghembus kebawah telinga, membuat tubuh merinding
“Kalo papa telat bangun...”,lanjutnya, nafas itu semakin membuat
merinding.
“Nanti reski buat papa diambil ayam …” sambungnya ,
merinding dan mulai merangsang. Si kecil
sudah mulai menggeliat.
“Mau…,” sergahnya. Kata
mau itu disertai dengan wajah mendekat ke pipi.
Tak terasa dada itu merapat ke bibir.
Hati berguman, kalo ini maulah. Siapa yang nolak. Ini yang disebut reski dipagi hari. Kalo ini, hamba siap bangun dan membangunkan. Rangsangan itu semakin meninggi. Membuat suhu basal yang sudah naik menjadi lebih
hangat.
“Badan papa hangat??”, tanyanya. Kujawab dengan anggukan.
“Papa sakit?..” lanjutnya. Kepala kugelengkan ke kiri dan ke
kanan sebagai pertanda tidak.
“ Ini pasti karena ac, papa tidak terbiasa tidur dengan suhu
dingin seperti ini…”, ujarnya. Dengan cepat tangan kiri meraih romote ac
diatas meja rias. Kucoba menahan, tapi
semua tangan tertahan. Dia lebih sigap.
Bagaimana tidak sigap, kalo separuh badannya sudah menindihku. Tangan kananku
tertahan di dada kirinya. Tangan kiri
tertahan diantara kedua belah pahaku, tapi tertindih dengan pahanya. Hanya bisa pasrah saat ac dimatikan. Tetapi lebih baik menahan dan menikmati,
reski pagi hari.
“Mama peluk yaa, jangan sakit sayang, jagoanku harus kuat”…ucapnya.
Lalu sebuah kecupan manis dikening, lalu berbisik mesra, “anak
kita butuh papa yang kuat”….
Pelan kepala ini di tariknya kea rah dada. Bidang yang
paling senang disemua bagian tubuhnya.
Hangat dan wangi buatku.
Kalo ini reski dipagi hari setiap pagi , di akhir pekan akan
kulalui dengan cara ini. Bidan sayangku,
malaikat kecilku. Tahukah kau kalo
setiap pagi badan ini menghangat bila disentuh.
Tanda kelaki-lakian sudah siap perang.
Pelukan semakin erat, suhu mulai menghangat. Suasana kamar semakin romantic, lampu padam
tapi cahaya ufuk timur sudah mulai menjelajah kamar dari celah jendela. Seperti bibir ini yang menjelajah dari ubun
kepala hingga ubun lainnya. Menjelajah
di balik daster warna kesukaannya.
Entah
apa warna dasarnya, ungu, biru, merah maron, semuanya ada.
Hanya bisa pasrah setiap kecupan hangat ini mendera. Hingga batas akhir.
Peluh dipagi hari, reski di pagi hari.
Perjanjian batal demi hukum. Suara Salman berteriak memanggil Nani
membersihkan lorong samping rumah kami tak hiraukan. Tuan dan Nyonya senam pagi…..
Jam 10 berdentang, dering telepon fax di kamar berteriak. Menyadarkan kami yang tertidur
kelelahan. Sayup terdengar suara dari gagang
saat diangkatnya.
“Kak Das menelpon….”, bisiknya. Saya hanya mengangguk tanda patuh untuk diam.
Tak lama telepon di tutup.