“ Suara tertahan dan parau mulai
terdengar, disertai isakan tangis.
Diantaranya terdengar helah nafas panjang, bersama hilang kata kata dari
bibirnya. Yang kesekian kalinya suara
ini kudengar, entah sudah berapa kali tergiang.
Diujung telepon, jauh disana, lebih 1.024 km ke arah Timur Laut dari Makassar. Suara yang sudah lama ingin kudengar…14
November 2016, pukul 10.00, dering panggilan pertama kalinya
Ini yang pertama, dari 9 tahun
terakhir. Tangis tumpah tiada
henti. Segala isi hati tercurah yang
selama di pendam. Rasa sepi dan sendiri
menemani sejak kepulangan Ayahanda tercinta.
Tiada seorangpun yang mampu memahaminya dan mampu menyelami hatinya
selama ini. Tumpahan keluh kesahnya selama ini yang membuat bertahan, telah
pergi selamanya. Butuh kekuatan dan
nyali untuk melakukan ini. Keyakinan
bahwa hanya pemilik sejati hatinya yang terdekat selama ini, akan mendengar. Semoga
memahami, betapa dia merindu, betapa sedihnya , betapa sakitnya.
Semua dilaluinya sebagai kewajiban
sebagai kehampaan. Bukan miliknya namun
kewajibannya menyertai untuk merawatnya.
Bukan ini keinginannya, bukan ikrar ini, bukan dari dirinya. Kewajiban selama 9 tahun dicoba untuk
dilaluinya. Dengan senyum walau hati
menangis. Dicobanya tegar, namun tak
bisa. Ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya
telah lama disia-siakan begitu saja. Tingginya
cita dan besarnya hasrat untuk kembali, tetap tertahan. Kodrat sebagai wanita, kualat jika
dilawannya. Ungkapnya…”
Ada celah kecil dalam lorong sempit, terdalam,
dilubuk hatinya. Didalamnya ada ruang
sempit, hanya sebatang ada lilin menyala, yang sekian tahun tak bisa padam,
walau terpaan angina selalu menghembus kearahnya, dan selalu menemaninya. Menjaga hatinya. Menghangatkan hatinya. Memberinya harapan, hanya itu yang memberi
semangat. Entah kapan pemilik sejatinya
hadir menemani di sisa waktunya.
-------------------------
“ Dari
Surabaya...” ucapnya dengan nada gelisah.
“ Dua minggu lagi, Ciremai baru masuk..”
tambahnnya, kali ini nada gelisah jelas terdengar. Tak mungkin lagi disembunyikannya. Galau dan hasrat berkecamuk di hatinya. Bahwa ia harus pulang, usai wisuda. Sesegera mungkin, sebelum masuk bulan
Ramadhan.
-------------------------
Meski mengajukan berbagai
alasan, titah Ratu, wajib dipenuhi, dipatuhi lalu dijalankan. Ratu buatku, tapi buatnya, beliau adalah
ibu. Pengganti ibu kandung yang
berpulang karena pendarahan usai melahirkan adik bungsunya. Ratu inilah yang mengatur seluruh tatanan
kehidupannya. Mulai potongan rambut
hingga pakaian dalam buat dirinya. Dan
membentuk putrinya, menjadi karakter keras namun pemalu yang memiliki sejuta
mimpi dan asa di lubuk hatinya. Namun
Ratu pula lah menemukannya putri ini terlantar.
Gadis kecil yang lugu dan
pemalu, terdampar di tempat bilyard dan warung malam. Menemani sang ayah yang kesepian. Ayahanda yang bingung, mencari keluarga
pengasuh putri satu-satunya yang tersisa.
Himpitan ekonomi membuat sulit untuk bertahan. Namun cinta seorang bapak, ingin merawat
putrinya yang tersisa dengan usahanya sendiri. Entah dengan cara apapun. Dibawahnya putri kemana saja dia pergi. Terkadang putri manis, harus dititip
sementara ke keluarga yang berkenan merawatnya, jika beliau ingin pergi
beberapa lama. Mencari nafkah.
Anak sulung, berpulang usai
mengalami pendarahan yang hebat, akibat keguguran. Tak lama menantu satu2nya ikut menyusul sang
istri. Dan yang kedua, berpulang juga
tak lama setelah keguguran. Hal yang sama
terjadi, sama seperti yang sulung.
Sebelumnya istri tercinta ikut berpulang usai melahirkan anak lelaki
satu-satunya, karena hal yang sama. Garis
keturunan dari Ayah dan Ibu, memilki riwayat yang sama. Kandungan lemah, pendarahan dan merenggut
nyawa mereka.
Garis keturunan ini kelak
menyertai gen pada putrinya. Putri
satu-satunya tersisa selalu menyertainya.
Sedangkan putra satu-satunya tersisa, dititipkan sama neneknya. Kelak dewasa mereka dipertemukan.
Sang Ratu, mengadopsinya. Mengangkat sebagai anak kandungnya dan
membesarkannya. Putri yang baru mulai
beranjak dewasa. Masih bermain karet gelang dengan anak anak
kecil disekitar rumahnya. Masa kecilnya hilang. Usai kelas 5 SD dirawatnya hingga mencapai
gelarnya.
Kelak dewasa, seorang lelaki
merubah semua jalan hidupnya. Lelaki,
tempat ia bersandar didadanya, saat menangis ditengah malam. Karena tidak ingat lagi wajah ibu kandungnya. Padahal ia merindu akan kehadiran beliau,
meski didalam mimpi. Lelaki yang memiliki segalanya atas dirinya. Pemilik sejati, satu -satunya cinta yang ada. Tak akan ada lagi cinta yang lain. Pertama dan terakhir
-------------------------
“
Kak, sudah makan? ”, tanyanya. Matanya
menatap tepat ke kedua mataku. Mata bola
ini yang selalu kurindu. Selalu
kumimpikan. Teduh, namun ada awan hitam
menggelayut. Tanda hujan, tanda mata
akan mengeluarkan air mata.
Kugelengkan kepala, tanpa suara. Tatapannya masih tak lepas dari mataku. Seakan akan tahu kalau lelaki pujaannya
begitu lelah. Dirapatkannya badannya
kearahku. Kedua tangannya merengkuh
pinggang, lalu kanannya naik mengusap punggung.
Hal yang paling kusuka darinya, mengusap punggung lembut sekali. Sambil didekatnya wajah dia berbisik.
“ Kakak makan dulu, nanti
sakit?”, bisiknya. Badan ini mematung,
terpaku akan belaiannya. Bibirnya
merapat ke bibirku. Satu kecupan. Lalu di tariknya kepalaku untuk menunduk.
Dirapatkannya kembali bibirnya diatas kening. Dua kecupan.
Tidak menunggu kecupan
ketiga. Segara kuserang dari segala
arah. Tiba-tiba serangan di tepis. Matanya melirik ke arah pintu yang terbuka. “
nanti dilihat orang?!”, ucapnya tertahan.
Lupa menerapkan langkah pengamanan.
Dengan gerakan cepat, kaki kanan menendang pintu. Tangan kanan menahan
agar tidak terhempas. Lalu mengunci pintu.
Sementara tangan kiri tak mau lepas dari pinggangnya. Seakan takut, akan kaburnya sang Putri. Padahal satu-satunya akses masuk hanya
melewati pintun ini. Melewati jendela
saja tak mungkin.
Serangan di lanjut, ibarat
kesebelasan sepak bola, semua menjadi penyerang termasuk penjaga gawang. Mirip
Timnas Vietnam melawan Timnas Indonesia di Semi Final Piala AFF Leg 2 tahun 2016. Serangan bertubi-tubi. Tiada henti.
Tidak ada areal yang kosong tersisa.
Nafas kami semakin memburu. Peluh
bercucuran tiada henti. Serangan terus,
terus dan terus. Sampai batas
puncak. Kaku dan kejang berlangsung
lama. Membawa ke alam nirwana, membumbung
keatas. Dan terhempas. Senyum manis terpampang di wajahnya. Lalu
sebuah kecupan penutup, mengakhiri pertempuran kali ini.
Tak sehelai benang berada
diantara kami. Terbaring lemas, saling
berhadapan. Hanya sarung pantai motif
Bali, yang menutupi pinggang kami berdua.
Sesaat berlalu. Ia berujar, “Ibu
memintaku pulang”. Matanya menatap cemas
kearahku.
“Usai ijasah di terima, segera
beli tiket, pintanya.” Sambungnya. Kali
ini matanya menyusuri seluruh wajahku.
Seperti menghafal detil wajah, centi demi senti.
“Apa yang kamu khawatirkan”,
tanyaku. “Saya tetap dikota ini,
menunggu kita kembali”, sambungku. Kupanggil dengan kata kita, istilah daerah untuk menghormati atau menyapa dengan sopan
seseorang sebagai pengganti kata anda.
“Tidak akan kemana!” seruku. “Saya
akan tetap menunggu kedatangan ta”,
jelasku. Ta singkatan dari Kita.
Sebuah pelukan hangat meyerang
balik. “Saya tidak bisa jauh dari kita”,
ucapnya. Seraya kubelai kepala
kubisikkan, ”Memang saya tidak merana, kalo kita berlama lama disana !”, bisikku.
------------------------------
Dibatas
dermaga, mata ku mencari wajahnya. Tak
satupun Nampak. Dari Haluan hingga
buritan. Dari dek teratas hingga dek
terbawah. Tak ada wajahnya. Padahal kapal sudah mulai berlahan melepaskan
diri dari dermaga yang mengikatnya.
Seingatku,
semua barangnya di tinggal di bawah tangga dek 4 menuju dek 5. Ditinggal bersama sepupu laki-laki yang akan
menemani pulang. Ia tadi masih
menemaniku hingga pintu turun tangga di dek 3. Sebuah pelukan hangat dan kecupan manis di
kening melapasku turun, bersamaan dengan teriakan ABK agar semua pengantar
turun segera. Kapal akan segera
meninggalkan pelabuhan. Kapal ini penuh
sesak. Tak ada tempat yang tersisa untuk
penumpang tambahan dalam kapal KM. Ciremai.
Ini adalah kapal terakhir yang berangkat sebelum bulan Ramadhan datang.
Meter
demi meter, kapal menjauhi dermaga.
Belum Nampak wajahnya disisi kapal.
Badan kapal sudah menjauh lebih dari 10 Meter. Jika genap 50 meter, maka
haluan akan bergerak keluar. Dan yang
mulai memacu mesin untuk menuju laut lepas.
Ada
suitan nyaring di sertai teriakan menyebut nama ku. Kudapati wajahnya. Isyarat segera pulang kerumah di tujukan
kepada ku. Ia ingin aku patuhi
permintaannya, sebelum berangkat ke pelabuhan.
“Habis
mengantarku naik ke kapal, jangan tunggu di dermaga.” Bisiknya.
“Kenapa?”
Tanyaku menyelidik.
Dihelanya
nafas panjang lalu membisikkan, “Papa, hati mama tidak kuat melihat wajah papa
di dermaga”, katanya. Kata Papa dan Mama, membuatku degup jantungku makin
cepat. Merinding. Bahagia. Bangga. Ini
pertama kali ia berucap dan memanggil dirinya dan diriku. Papa….Mama….
“Papa
langsung pulang saja, tidak usah menunggu kapal berangkat”, perintahnya.
“Nggak,
papa ingin melihat wajah mama sampai kapal menjauh!” bantahku. Suara ikut bergetar
setiap menyebut kata papa dan mama.
“Nanti
mama sakit hati melihat papa sendiri, mama bisa sakit”, katanya.
“Dari
pada papa mati penasaran, hayooo??!!”, jawabku.
“Nanti
mama menangis lagi”, sanggahnya. “Mama pasti demam dan sakit kalo habis
menangis”, lanjutnya.
“Tangisan
mama itu, yang akan membuat mama cepat pulang dan kembali kesini,” jawabku sambil
menunjuk jantungku.
Ada senyuman manis, dipeluknya
lelaki pujaannya. “andai papa tahu isi hatiku”, bisiknya. Tidak kutunggu ucapannya lebih lanjut. Tapi kueratkan pelukanku. Bodoh amat supir taksi yang menyetir. Tersadar kalo saat ini ada di taksi.
Dia
tidak bohong. Jelas air matanya
berjatuhan. Meski jarak dermaga dari
kapal sdh mencapai 15 meter dari dermaga.
Mata bola. Mata Malaikat Kecil
ku. Putri yang kelak ikut andil dan mewarnai jalan kehidupan ku. Kehidupan kami berdua.
Dari
dermaga tempat ku berdiri. Kupandangi
wajahnya. Berlahan lahan mengecil
seiring gerakan laju kapal menuju laut, lalu hilang dari pandanganku. Sampai seluruh badan kapal menghilang. Saya masih di dermaga.
Andai
kau tahu dan saya tahu saat itu. Bahwa
separuh nafas kita telah kau bawah pergi bersama mu. Bersama dalam tubuh mu. Didalam Rahim mu. Ada buah hati kita. Kita masih lugu dan goblok saat itu. Mual dan lelahmu, seminggu sebelum kau pulang
ke kampung halaman mu. Bukan karena
sakit maag kambuh. Tapi ada cinta yang terbentuk di Rahim mu. Sudah 2 Minggu berlalu, waktu semestinya
berlaku. Saat kau pergi sudah genap,
mungkin 3 minggu.
Dan itu yang membawa kita bersatu kembali. Kelak.
Semoga Yang Maha Kuasa Mengabulkannya.
Amin.
------------------------------