Friday, December 9, 2016

Lilin Kecil di Tengah Badai



“ Suara tertahan dan parau mulai terdengar, disertai isakan tangis.  Diantaranya terdengar helah nafas panjang, bersama hilang kata kata dari bibirnya.  Yang kesekian kalinya suara ini kudengar, entah sudah berapa kali tergiang.  Diujung telepon, jauh disana, lebih 1.024 km ke arah  Timur Laut dari Makassar.  Suara yang sudah lama ingin kudengar…14 November 2016, pukul 10.00, dering panggilan pertama kalinya

Ini yang pertama, dari 9 tahun terakhir.  Tangis tumpah tiada henti.  Segala isi hati tercurah yang selama di pendam.  Rasa sepi dan sendiri menemani sejak kepulangan Ayahanda tercinta.  Tiada seorangpun yang mampu memahaminya dan mampu menyelami hatinya selama ini. Tumpahan keluh kesahnya selama ini yang membuat bertahan, telah pergi selamanya.  Butuh kekuatan dan nyali untuk melakukan ini.  Keyakinan bahwa hanya pemilik sejati hatinya yang terdekat selama ini, akan mendengar. Semoga memahami, betapa dia merindu, betapa sedihnya , betapa sakitnya.

Semua dilaluinya sebagai kewajiban sebagai kehampaan.  Bukan miliknya namun kewajibannya menyertai untuk merawatnya.  Bukan ini keinginannya, bukan ikrar ini, bukan dari dirinya.  Kewajiban selama 9 tahun dicoba untuk dilaluinya.  Dengan senyum walau hati menangis.  Dicobanya tegar, namun tak bisa.  Ada sesuatu yang hilang.  Sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya telah lama disia-siakan begitu saja.  Tingginya cita dan besarnya hasrat untuk kembali, tetap tertahan.  Kodrat sebagai wanita, kualat jika dilawannya.  Ungkapnya…”

Ada celah kecil dalam lorong sempit, terdalam, dilubuk hatinya.  Didalamnya ada ruang sempit, hanya sebatang ada lilin menyala, yang sekian tahun tak bisa padam, walau terpaan angina selalu menghembus kearahnya, dan selalu menemaninya.  Menjaga hatinya.  Menghangatkan hatinya.  Memberinya harapan, hanya itu yang memberi semangat.  Entah kapan pemilik sejatinya hadir menemani di sisa waktunya.

-------------------------


 Dari Surabaya...” ucapnya dengan nada gelisah.
“ Dua minggu lagi, Ciremai baru masuk..” tambahnnya, kali ini nada gelisah jelas terdengar.  Tak mungkin lagi disembunyikannya.  Galau dan hasrat berkecamuk di hatinya.   Bahwa ia harus pulang, usai wisuda.  Sesegera mungkin, sebelum masuk bulan Ramadhan. 

-------------------------

Meski mengajukan berbagai alasan, titah Ratu, wajib dipenuhi, dipatuhi lalu dijalankan.  Ratu buatku, tapi buatnya, beliau adalah ibu.  Pengganti ibu kandung yang berpulang karena pendarahan usai melahirkan adik bungsunya.  Ratu inilah yang mengatur seluruh tatanan kehidupannya.  Mulai potongan rambut hingga pakaian dalam buat dirinya.  Dan membentuk putrinya, menjadi karakter keras namun pemalu yang memiliki sejuta mimpi dan asa di lubuk hatinya.  Namun Ratu pula lah menemukannya putri ini terlantar. 

Gadis kecil yang lugu dan pemalu, terdampar di tempat bilyard dan warung malam.  Menemani sang ayah yang kesepian.  Ayahanda yang bingung, mencari keluarga pengasuh putri satu-satunya yang tersisa.  Himpitan ekonomi membuat sulit untuk bertahan.  Namun cinta seorang bapak, ingin merawat putrinya yang tersisa dengan usahanya sendiri. Entah dengan cara apapun.  Dibawahnya putri kemana saja dia pergi.  Terkadang putri manis, harus dititip sementara ke keluarga yang berkenan merawatnya, jika beliau ingin pergi beberapa lama.  Mencari nafkah.

Anak sulung, berpulang usai mengalami pendarahan yang hebat, akibat keguguran.  Tak lama menantu satu2nya ikut menyusul sang istri.   Dan yang kedua, berpulang juga tak lama setelah keguguran.  Hal yang sama terjadi, sama seperti yang sulung.  Sebelumnya istri tercinta ikut berpulang usai melahirkan anak lelaki satu-satunya, karena hal yang sama.  Garis keturunan dari Ayah dan Ibu, memilki riwayat yang sama.  Kandungan lemah, pendarahan dan merenggut nyawa mereka. 

Garis keturunan ini kelak menyertai gen pada putrinya.  Putri satu-satunya tersisa selalu menyertainya.  Sedangkan putra satu-satunya tersisa, dititipkan sama neneknya.  Kelak dewasa mereka dipertemukan.

Sang Ratu, mengadopsinya.  Mengangkat sebagai anak kandungnya dan membesarkannya.  Putri yang baru mulai beranjak dewasa.   Masih bermain karet gelang dengan anak anak kecil disekitar rumahnya.   Masa kecilnya hilang.  Usai kelas 5 SD dirawatnya hingga mencapai gelarnya.

Kelak dewasa, seorang lelaki merubah semua jalan hidupnya.  Lelaki, tempat ia bersandar didadanya, saat menangis ditengah malam.  Karena tidak ingat lagi wajah ibu kandungnya.  Padahal ia merindu akan kehadiran beliau, meski didalam mimpi.  Lelaki yang memiliki segalanya atas dirinya.  Pemilik sejati, satu -satunya cinta yang ada.  Tak akan ada lagi cinta yang lain.  Pertama dan terakhir


-------------------------

                “ Kak, sudah makan? ”, tanyanya.  Matanya menatap tepat ke kedua mataku.  Mata bola ini yang selalu kurindu.  Selalu kumimpikan.  Teduh, namun ada awan hitam menggelayut.  Tanda hujan, tanda mata akan mengeluarkan air mata. 
               
               Kugelengkan kepala, tanpa suara.  Tatapannya masih tak lepas dari mataku.  Seakan akan tahu kalau lelaki pujaannya begitu lelah.  Dirapatkannya badannya kearahku.  Kedua tangannya merengkuh pinggang, lalu kanannya naik mengusap punggung.  Hal yang paling kusuka darinya, mengusap punggung lembut sekali.  Sambil didekatnya wajah dia berbisik.

“ Kakak makan dulu, nanti sakit?”, bisiknya.  Badan ini mematung, terpaku akan belaiannya.  Bibirnya merapat ke bibirku.  Satu kecupan.  Lalu di tariknya kepalaku untuk menunduk. Dirapatkannya kembali bibirnya diatas kening. Dua kecupan.

Tidak menunggu kecupan ketiga.  Segara kuserang dari segala arah.  Tiba-tiba serangan di tepis.  Matanya melirik ke arah pintu yang terbuka. “ nanti dilihat orang?!”, ucapnya tertahan.  Lupa menerapkan langkah pengamanan.  Dengan gerakan cepat, kaki kanan menendang pintu. Tangan kanan menahan agar tidak terhempas. Lalu mengunci pintu.  Sementara tangan kiri tak mau lepas dari pinggangnya.  Seakan takut,  akan kaburnya sang Putri.  Padahal satu-satunya akses masuk hanya melewati pintun ini.  Melewati jendela saja tak mungkin.

Serangan di lanjut, ibarat kesebelasan sepak bola, semua menjadi penyerang termasuk penjaga gawang.   Mirip Timnas Vietnam melawan Timnas Indonesia di Semi Final Piala AFF Leg 2 tahun 2016.  Serangan bertubi-tubi.  Tiada henti.  Tidak ada areal yang kosong tersisa.  Nafas kami semakin memburu.  Peluh bercucuran tiada henti.  Serangan terus, terus dan terus.  Sampai batas puncak.  Kaku dan kejang berlangsung lama.  Membawa ke alam nirwana, membumbung keatas.  Dan terhempas.  Senyum manis terpampang di wajahnya. Lalu sebuah kecupan penutup, mengakhiri pertempuran kali ini.

Tak sehelai benang berada diantara kami.  Terbaring lemas, saling berhadapan.  Hanya sarung pantai motif Bali, yang menutupi pinggang kami berdua.

Sesaat berlalu. Ia berujar, “Ibu memintaku pulang”.  Matanya menatap cemas kearahku.

“Usai ijasah di terima, segera beli tiket, pintanya.” Sambungnya.  Kali ini matanya menyusuri seluruh wajahku.  Seperti menghafal detil wajah, centi demi senti.

“Apa yang kamu khawatirkan”, tanyaku.  “Saya tetap dikota ini, menunggu kita kembali”, sambungku.  Kupanggil dengan kata kita, istilah daerah untuk menghormati atau menyapa dengan sopan seseorang sebagai pengganti kata anda.

“Tidak akan kemana!” seruku. “Saya akan tetap menunggu kedatangan ta”, jelasku. Ta singkatan dari Kita.

Sebuah pelukan hangat meyerang balik.  “Saya tidak bisa jauh dari kita”, ucapnya.  Seraya kubelai kepala kubisikkan, ”Memang saya tidak merana, kalo kita berlama lama disana !”, bisikku.


------------------------------

                Dibatas dermaga, mata ku mencari wajahnya.  Tak satupun Nampak.  Dari Haluan hingga buritan.  Dari dek teratas hingga dek terbawah.  Tak ada wajahnya.  Padahal kapal sudah mulai berlahan melepaskan diri dari dermaga yang mengikatnya.

                Seingatku, semua barangnya di tinggal di bawah tangga dek 4 menuju dek 5.  Ditinggal bersama sepupu laki-laki yang akan menemani pulang.  Ia tadi masih menemaniku hingga pintu turun tangga di dek 3.  Sebuah pelukan hangat dan kecupan manis di kening melapasku turun, bersamaan dengan teriakan ABK agar semua pengantar turun segera.  Kapal akan segera meninggalkan pelabuhan.  Kapal ini penuh sesak.  Tak ada tempat yang tersisa untuk penumpang tambahan dalam kapal KM. Ciremai.  Ini adalah kapal terakhir yang berangkat sebelum bulan Ramadhan datang.

                Meter demi meter, kapal menjauhi dermaga.  Belum Nampak wajahnya disisi kapal.  Badan kapal sudah menjauh lebih dari 10 Meter. Jika genap 50 meter, maka haluan akan bergerak keluar.  Dan yang mulai memacu mesin untuk menuju laut lepas.

                Ada suitan nyaring di sertai teriakan menyebut nama ku.  Kudapati wajahnya.  Isyarat segera pulang kerumah di tujukan kepada ku.  Ia ingin aku patuhi permintaannya, sebelum berangkat ke pelabuhan.
               
                “Habis mengantarku naik ke kapal, jangan tunggu di dermaga.” Bisiknya.
                “Kenapa?” Tanyaku menyelidik.

                Dihelanya nafas panjang lalu membisikkan, “Papa, hati mama tidak kuat melihat wajah papa di dermaga”, katanya. Kata Papa dan Mama, membuatku degup jantungku makin cepat. Merinding. Bahagia. Bangga.  Ini pertama kali ia berucap dan memanggil dirinya dan diriku. Papa….Mama….

                “Papa langsung pulang saja, tidak usah menunggu kapal berangkat”, perintahnya.

                “Nggak, papa ingin melihat wajah mama sampai kapal menjauh!” bantahku. Suara ikut bergetar setiap menyebut kata papa dan mama.

                “Nanti mama sakit hati melihat papa sendiri, mama bisa sakit”, katanya.

                “Dari pada papa mati penasaran, hayooo??!!”, jawabku.

                “Nanti mama menangis lagi”, sanggahnya. “Mama pasti demam dan sakit kalo habis menangis”, lanjutnya.

                “Tangisan mama itu, yang akan membuat mama cepat pulang dan kembali kesini,” jawabku sambil menunjuk jantungku.
               
Ada senyuman manis, dipeluknya lelaki pujaannya. “andai papa tahu isi hatiku”, bisiknya.  Tidak kutunggu ucapannya lebih lanjut.  Tapi kueratkan pelukanku.  Bodoh amat supir taksi yang menyetir.  Tersadar kalo saat ini ada di taksi.
               
                Dia tidak bohong.  Jelas air matanya berjatuhan.  Meski jarak dermaga dari kapal sdh mencapai 15 meter dari dermaga.  Mata bola.  Mata Malaikat Kecil ku. Putri yang kelak ikut andil dan mewarnai jalan kehidupan ku.  Kehidupan kami berdua.

                Dari dermaga tempat ku berdiri.  Kupandangi wajahnya.  Berlahan lahan mengecil seiring gerakan laju kapal menuju laut, lalu hilang dari pandanganku.  Sampai seluruh badan kapal menghilang.  Saya masih di dermaga.

                Andai kau tahu dan saya tahu saat itu.  Bahwa separuh nafas kita telah kau bawah pergi bersama mu.  Bersama dalam tubuh mu.  Didalam Rahim mu.  Ada buah hati kita.  Kita masih lugu dan goblok saat itu.  Mual dan lelahmu, seminggu sebelum kau pulang ke kampung halaman mu.  Bukan karena sakit maag kambuh. Tapi ada cinta yang terbentuk di Rahim mu.  Sudah 2 Minggu berlalu, waktu semestinya berlaku.  Saat kau pergi sudah genap, mungkin 3 minggu.



            Dan itu yang membawa kita bersatu kembali.  Kelak.  Semoga Yang Maha Kuasa Mengabulkannya.  Amin.
 
  
------------------------------